JAWARA DAN PERUBAHAN SOSIAL DI PARAGE  KABUPATEN LEBAK BANTEN PADA 1950-1980

Authors

  • Sabarudin SMAN 1 Cikulur Author

Keywords:

Jawara, parage, perubahan social.

Abstract

Jawara merupakan golongan yang mempunyai peranan penting dalam dinamika kehidupan sosial di Banten. Peranan jawara tidak dapat dilepaskan begitu saja dalam setiap gerakan yang terjadi di Banten sehingga Banten sering di anggap memiliki tradisi memberontak oleh pemerintah kolonial. Tradisi ini erat kaitannya dengan gerakan social yang terjadi di Banten sepanjang abad ke-19, seperti yang dilakukan oleh Pangeran Ahmad yang merupakan putera dari Sultan Aliyudin II, pada tahun 1813. Dalam sejarah kehidupan sosial di Banten kemunculan jawara tidak hanya terjadi di wilayah-wilayah yang bergejolak, tetapi menyebar ke seluruh wilayah Banten termasuk wilayah pedesaan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman jawara pun mengalami pergeseran makna dan peranan. Kalau dulu jawara banyak berkecimpung di dunia pergerakan, pada perkembangan selanjutnya banyak jawara yang beralih profesi menjadi buruh, pengusaha, bahkan terlibat ke dalam kancah politik nasional setelah kemerdekaan Indonesia. Di Desa Parage jawara mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses perubahan sosial yang terjadi di desa ini. Walaupun jawara mempunyai peranan yang sangat besar dalam proses perubahan sosial di Parage, tetapi bukan merupakan satu-satunya faktor dalam proses perubahan tersebut. Ada banyak faktor lain yang turut mengiringi proses perubahan sosial di Parage. Faktor-faktor tersebut antara lain usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan produksi hasil pertanian di Parage dengan membangun beberapa saluran irigasi yang sangat diperlukan oleh petani. Faktor kedua, yaitu semakin lancarnya transportasi antara Ibukota dengan daerah-daerah disekitarnya seperti pembangunan rel kereta api Jakarta-Merak yang melintasi Kota Rangkasbitung. Pembangunan sarana transportasi ini secara tidak langsung telah mendorong terjadinya migrasi dari desa ke kota termasuk Parage.

References

Adil A. Fadilakusuma, 2003. “Penca Sareng

Manusa Manggapulia”. Makalah Seminar

Ngaguar

Budaya

Sunda

Pikeun

Mulangkeun jati Diri Ki Sunda. Yogyakarta,

25 September.

Atsushi Ota, 2001. “ Banten and Its hinterland

Around 1790 Change and Dynamics in

Pre-colonial Society”. Paper seminar at

gadjah Mada University. Yogyakarta, 28

N0vember.

Depdiknas, 2000. Kebudayaan Masyarakat

Sunda di Kabupaten Lebak Jawa Barat.

Bandung: P2NB Jawa Barat.

Djoko Suryo, 1989. Sejarah Sosial Pedesaan

Karesidenan

Semarang

1830-1900.

Yogyakarta: Pusat Antar Universitas Studi

Sosial Universitas Gadjah Mada.

Edi S. Ekadjati, 1995. Kebudayaan Sunda: Suatu

Pendekatan Sejarah. Jakarta: Pustaka

Jaya.

Geertz, Clifford, 1989. Diterjemahkan oleh Aswab

Mahasin, Abangan, Santri, Priyayi dalam

masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya.

Gottschalk, Louis, 1985. Diterjemahkan oleh

Nugroho Notosusanto. Mengerti Sejarah.

Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Harto Nurdin, 1986. Profil Kependudukan Jawa

Barat, Jakarta: Kerjasama Kantor Menteri

Negara Kependudukan dengan Lembaga

Demografi Fakultas Ekonomi Universitas

Indonesia.

Ida Bagoes Mantra, 1991. ” Mobilitas Non

pertanian Penduduk Pedesaan: suatu

Strategi

meningkatkan

Pendapatan

Rumah Tangga”, dalam Gunardi dan

Bambang S. Utama, Merintis Jalan

Menanggulangi Kemiskinan Kenang

Kenagan Purna Bhakti Dr. Sajogo. Bogor:

Lembaga Penelitian Institut Pertanian

Bogor.

Kuntowijoyo, 1987. Budaya dan Masyarakat.

Yogyakarta: Tiara Wacana. ---------------,

1994.

Metodologi

Yogyakarta: Tiara Wacana. ----------------,

2002.

Radikalisasi

Sejarah.

Petani.

Yogyakarta: Yayasan Bateng Budaya. ----------------, 2003. Perubahan Sosial Dalam

Masyarakat Agraris Madura 1850-1940.

Yogyakarta: Mata Bangsa.

Masnipal Marhun (Editor), 1991. Bunga Rampai

Jawa Barat. Bandung: Yayasan Wahana

Citra Nusantara.

Masri Singarimbun, 1996. Penduduk dan

Perubahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mubyarto, 1996. “ Pembangunan Pertanian

Terpadu di Lahan Kering: Permasalahan

Sosial-Ekonomi dan Aspeknya”, dalam

Mubyarto, Berbagi Aspek Pembangunan

Pedesaan, Yogyakarta: Aditya Media.

Nina H. Lubis, 2001. “Hubungan Antara

Sentralisasi Pemerintah Pemda Provinsi

Jawa Barat dengan Berdirinya Provinsi

Banten’. Makalah Konferensi Nasional

Sejarah VII. ------------------, 2001. “Jawara dalam Dinamika

Sosial Politik Budaya Banten”, dalam

Kumpulan Makalah Diskusi Sejarah Lokal.

Jakarta: Depdiknas. ------------------, 2004. Banten Dalam Pergumulan

Sejarah: Sultan, uLama, Jawara. Jakarta:

LP3ES.

Peter Burke, 2001. Sejarah dan Teori Sosial.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sartono Kartodirjo, 1984. Pemberontakan Petani

Banten 1888, Jakarta: Pystaka Jaya.

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi,

1964.

Setangkai

Jakarta:Lembaga

Bunga Sosiologi.

Penerbit

Fakultas

Ekonomi Universitas Indonesia.

Steinberg, David J., 1983. Alam Kehidupan

Petani”,

dalam

Satono

Kartodirjo

(Penyunting). Elite Dalam Perspektif

Sejarah. Jakarta: LP3ES.

Steward, J.H., 1955. Theory of Culture Change:

The Methodology of Multilinear Evolution.

Urbana: University of Illinois Press.

Yayuk Yuliati dan Mangku Poernomo, 2003.

Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Lappera

Pustaka Utama.

Downloads

Published

2024-06-03

Issue

Section

Articles